Sabtu, 08 September 2012

Second Chance

Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Aku tahu mungkin ini memang memalukan buat diriku sendiri. Tapi, herannya, aku sama sekali nggak malu. Kenapa? Karena aku tahu jalan hidup tiap orang berbeda-beda. Aku tahu kalau Tuhan nggak memberiku jalan yang lurus. Meski tujuannya sama, jalanku bisa dibilang berkelok-kelok, bahkan mesti mampir ke mana-mana dulu sebelum sampai di tempat yang benar. Sekarang ini, aku sedang "mampir" dan keluyuran dulu, sebelum bener-bener singgah di tempat yang benar.

Tapi, yang paling bikin aku lega, ada banyak banget pelajaran yang bisa kuambil. Kegagalan membuatku belajar. Mungkin itu juga yang ingin ditunjukkan Tuhan buatku.

Visi dan misiku sejak awal memang sudah salah. Nggak heran kalau pada akhirnya aku gagal. Tapi, setelah kesempatan kedua datang untukku, visi dan misiku yang awalnya cuma karena keterpaksaan, sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Aku sudah mendapatkan kesempatan kedua, meskipun di tempat lain, bukan di tempatku yang dulu. Tapi aku tetap lega.

Seperti habis jatuh ke dalam sumur nggak berdasar. Kesempatan kedua itu kayak tangan yang terulur entah dari mana, lalu menarikku keluar dari sumur.

Dan, di sinilah aku sekarang. Masih hidup, dengan tanggungan masalah yang harus kurampungkan. Dan kali ini, aku nggak akan lari lagi. Waktunya menyelesaikan apa yang sudah kumulai.

Well, mungkin ini yang disebut "leveling up" ya? Yeaa, I'm leveling up.... :3

Sabtu, 01 September 2012

Friendzone - 1 - Arti Mereka

Oke, setelah perdebatan sengit dengan isi pikiran sendiri, aku memutuskan buat posting perkembangan salah satu proyek novelku di sini. Entah ya, belakangan ini aku tertarik mengangkat tema friendzone gara-gara--well--banyak yang nyebut-nyebut soal itu sih. Terinspirasi dari pengalaman sendiri juga.... *uhuk*

Ya sudah, sebelum postingan ini terselewengkan menjadi curcol, langsung masuk saja ke bab 1.

Oiya, klik judul kalau mau lihat postingan utuh (gara-gara read more-nya entah kenapa gak bisa muncul) =_=

==========================================

Don't Judge a Book by Its Cover

Astaga, aku ketakutan!

Malam ini di tengah-tengah syawalan RT 02 di kampungku, aku berdiri sendirian--menyepi di antara ratusan orang. Aku nggak peduli apa yang mereka pikirin saat melihatku sendirian di pojokan. "Teman-teman"-ku juga sudah menggerombol di lapak penerimaan tamu. Sebagian mendekat ke bilik konsumsi. Sekali lagi, aku nggak peduli. Karena aku nggak sendirian.

Di bawah meja di dekatku, ada seekor anak kucing kesasar yang menunggu interaksi dengan tanganku--mengendus-endusnya, atau bahkan menggigitinya. Sakit? Nggak, tuh. Aku malah merasa bahagia. Kepingin rasanya saat itu juga bawa anak kucing itu kabur.

Aku tahu dia lapar. Tapi aku nggak bisa berbuat apa pun. Mungkin aku satu-satunya yang nggak ngambil konsumsi. Nggak tahu, males aja rasanya. Dan akhirnya waktu aku teralih sama ponsel flipku, anak kucing itu pergi gitu aja. T_T

What an amazingly stupid of me.... OTL

Waktu aku lihat dia balik lagi ke bawah meja, aku langsung mau ke sana, tapi terhenti karena ada anak kecil yang menghampiri anak kucing itu. Anak kecil itu merogoh bawah meja, menyeret anak kucing itu keluar. Lalu bawa-bawa anak kucing itu pergi ke arah teman-temannya yang duduk di deretan paling depan. Dengan paksa. Saat itulah aku ketakutan. Ya Tuhan, mau diapain anak kucing se-oonyu itu? O___O

Aku sudah bersiaga bakal negur bahkan ngelindungin anak kucing itu. Nggak peduli sama tatapan ratusan orang yang lagi sibuk sama dendangan para sinden di depan sana. Aku nggak peduli. Yang penting anak kucing itu nggak kenapa-napa.

Then, guess what happens next!

Anak kecil itu dan teman-temannya ngasih makan si Anak Kucing.

Hnggggggg~ <3

That was so sweet >_<

Ugh, kalau aku punya kamera, pasti langsung kupotret adegan semanis itu! Pokoknya, aku refleks tersenyum lega melihat semua itu. Dadaku langsung terasa hangat. Mataku juga langsung terasa hangat. Rasanya pengen nangis bahagia. Untungnya akal sehatku masih bekerja, hingga nggak bikin malu diri sendiri di hadapan begitu banyak orang.

Intinya, melihat hal sesederhana interaksi anak-anak antarspesies itu bener-bener bikin aku bahagia.

Satu pelajaran lagi yang bisa kupetik dari hal sesederhana itu: don't judge a book by its cover.

Oke, itu memang quote yang klise, tapi abadi sepanjang masa.

Yea, kelihatan seburuk apa pun seseorang, kita nggak akan tahu semulia apa hatinya~ :3

By :
Free Blog Templates