Senin, 19 November 2012

Random Words #1

Kita dalam rasa
Kita dalam asa
Kita dalam realita
Hingga pada akhirnya....
Tiada lagi kata kita

Sabtu, 08 September 2012

Second Chance

Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Aku tahu mungkin ini memang memalukan buat diriku sendiri. Tapi, herannya, aku sama sekali nggak malu. Kenapa? Karena aku tahu jalan hidup tiap orang berbeda-beda. Aku tahu kalau Tuhan nggak memberiku jalan yang lurus. Meski tujuannya sama, jalanku bisa dibilang berkelok-kelok, bahkan mesti mampir ke mana-mana dulu sebelum sampai di tempat yang benar. Sekarang ini, aku sedang "mampir" dan keluyuran dulu, sebelum bener-bener singgah di tempat yang benar.

Tapi, yang paling bikin aku lega, ada banyak banget pelajaran yang bisa kuambil. Kegagalan membuatku belajar. Mungkin itu juga yang ingin ditunjukkan Tuhan buatku.

Visi dan misiku sejak awal memang sudah salah. Nggak heran kalau pada akhirnya aku gagal. Tapi, setelah kesempatan kedua datang untukku, visi dan misiku yang awalnya cuma karena keterpaksaan, sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Aku sudah mendapatkan kesempatan kedua, meskipun di tempat lain, bukan di tempatku yang dulu. Tapi aku tetap lega.

Seperti habis jatuh ke dalam sumur nggak berdasar. Kesempatan kedua itu kayak tangan yang terulur entah dari mana, lalu menarikku keluar dari sumur.

Dan, di sinilah aku sekarang. Masih hidup, dengan tanggungan masalah yang harus kurampungkan. Dan kali ini, aku nggak akan lari lagi. Waktunya menyelesaikan apa yang sudah kumulai.

Well, mungkin ini yang disebut "leveling up" ya? Yeaa, I'm leveling up.... :3

Sabtu, 01 September 2012

Friendzone - 1 - Arti Mereka

Oke, setelah perdebatan sengit dengan isi pikiran sendiri, aku memutuskan buat posting perkembangan salah satu proyek novelku di sini. Entah ya, belakangan ini aku tertarik mengangkat tema friendzone gara-gara--well--banyak yang nyebut-nyebut soal itu sih. Terinspirasi dari pengalaman sendiri juga.... *uhuk*

Ya sudah, sebelum postingan ini terselewengkan menjadi curcol, langsung masuk saja ke bab 1.

Oiya, klik judul kalau mau lihat postingan utuh (gara-gara read more-nya entah kenapa gak bisa muncul) =_=

==========================================

Don't Judge a Book by Its Cover

Astaga, aku ketakutan!

Malam ini di tengah-tengah syawalan RT 02 di kampungku, aku berdiri sendirian--menyepi di antara ratusan orang. Aku nggak peduli apa yang mereka pikirin saat melihatku sendirian di pojokan. "Teman-teman"-ku juga sudah menggerombol di lapak penerimaan tamu. Sebagian mendekat ke bilik konsumsi. Sekali lagi, aku nggak peduli. Karena aku nggak sendirian.

Di bawah meja di dekatku, ada seekor anak kucing kesasar yang menunggu interaksi dengan tanganku--mengendus-endusnya, atau bahkan menggigitinya. Sakit? Nggak, tuh. Aku malah merasa bahagia. Kepingin rasanya saat itu juga bawa anak kucing itu kabur.

Aku tahu dia lapar. Tapi aku nggak bisa berbuat apa pun. Mungkin aku satu-satunya yang nggak ngambil konsumsi. Nggak tahu, males aja rasanya. Dan akhirnya waktu aku teralih sama ponsel flipku, anak kucing itu pergi gitu aja. T_T

What an amazingly stupid of me.... OTL

Waktu aku lihat dia balik lagi ke bawah meja, aku langsung mau ke sana, tapi terhenti karena ada anak kecil yang menghampiri anak kucing itu. Anak kecil itu merogoh bawah meja, menyeret anak kucing itu keluar. Lalu bawa-bawa anak kucing itu pergi ke arah teman-temannya yang duduk di deretan paling depan. Dengan paksa. Saat itulah aku ketakutan. Ya Tuhan, mau diapain anak kucing se-oonyu itu? O___O

Aku sudah bersiaga bakal negur bahkan ngelindungin anak kucing itu. Nggak peduli sama tatapan ratusan orang yang lagi sibuk sama dendangan para sinden di depan sana. Aku nggak peduli. Yang penting anak kucing itu nggak kenapa-napa.

Then, guess what happens next!

Anak kecil itu dan teman-temannya ngasih makan si Anak Kucing.

Hnggggggg~ <3

That was so sweet >_<

Ugh, kalau aku punya kamera, pasti langsung kupotret adegan semanis itu! Pokoknya, aku refleks tersenyum lega melihat semua itu. Dadaku langsung terasa hangat. Mataku juga langsung terasa hangat. Rasanya pengen nangis bahagia. Untungnya akal sehatku masih bekerja, hingga nggak bikin malu diri sendiri di hadapan begitu banyak orang.

Intinya, melihat hal sesederhana interaksi anak-anak antarspesies itu bener-bener bikin aku bahagia.

Satu pelajaran lagi yang bisa kupetik dari hal sesederhana itu: don't judge a book by its cover.

Oke, itu memang quote yang klise, tapi abadi sepanjang masa.

Yea, kelihatan seburuk apa pun seseorang, kita nggak akan tahu semulia apa hatinya~ :3

Jumat, 31 Agustus 2012

This Emo Girl....

Kalau ngomong soal karakter, pikiranku selalu mengembara ke kehidupan karakter itu. Siapa pun dia. Mendalaminya, lalu bikin kisah tentangnya. Yup, kalau dipikir-pikir, selama ini aku memang selalu bikin cerita berdasarkan karakter yang kureka. Bukan nyiptain karakter untuk disesuaikan sama cerita. Just go with the flow.

Tapi, kali ini aku melanggar semua itu. Mungkin karena ini proyek duet pertamaku. Novel, maksudku. Kalau cerpen, aku sudah pernah duet bareng Mbak Octa. Untungnya, karya kami cukup dihargai--yah, berkat ide brilian dari Mbak Octa.

Proyek duetku kali ini kukerjain bersama Ling'er, anggota LCDP juga sama sepertiku. Ide awalnya dariku, dan penciptaan karakternya dipegang masing-masing. Ling'er bikin karakternya sendiri. Aku juga bikin sendiri. Yang jadi masalah, aku terlalu berani bereksperimen sama karakter ciptaanku itu.

Well, bisa dibilang, Kelana--nama karakter bikinanku itu--bener-bener berbanding terbalik denganku. Bagai langit dan bumi. Seorang cewek emo, dingin, galak, nggak pedulian, pemegang sabuk hitam karate, merasa dikhianati sama Tuhan. Err--aku baca ringkasan penjabaran soal Kelana, rasanya jadi kepengin jedot-jedotin kepala ke tembok.... OTL

Tetapi aku tetep harus bertanggung jawab ke karakterku itu. Sudah susah payah diciptain, masa' mau ditelantarin gitu aja. Kelana bisa protes besar--aku nggak mau kena upperkick-nya yang bahkan nggak bisa ditangkis "bodyguard" selevel Arya. Duh, kenapa malah jadi sop iler begini? #kabuuur

Entah gimana, Kelana berhasil menjadi biang kerok atas jungkir-baliknya mood-ku dalam menulis. Bukan berarti aku nyalahin dia. Toh, dia termasuk salah satu karakterku yang memang sulit kudalami. Paling sulit, malah. Dan itu menjadikannya menantang buat kugarap. Kalau beberapa proyek harus tertunda bahkan terhenti demi dia, kurasa itu cukup worth it.

Aku cuma ingin ngejadiin ini berhasil. Paling nggak, kalau ada partner dalam menulis, aku bisa terpacu untuk nggak nyerah. Dan ini bakal meringankan bebanku sebelum aku mulai meneruskan proyek novelku yang tertunda.

Kelana ... I won't give up on her :3

Aku ingin ngejadiin proyek novel duet ini sebagai petualangan spiritual buat Kelana. Juga petualangan pencarian jati diri. Juga petualangan buat ngembaliin kepercayaan dia. Entah kepada Tuhan, entah kepada orang-orang di sekelilingnya. Dan akhirnya, semua nggak akan lengkap tanpa soulmate yang "nyelametin" dia dari ke-emo-annya.

Hmm, mungkin suatu saat aku bakal gambar dia~! <3

Kamis, 30 Agustus 2012

Menunggu Sebentar, Lalu....

Untuk kesekian kalinya, aku terusik oleh lembar-lembar brosur di rak buku paling atas. Biasanya kugunakan sebagai tempat menaruh kertas-kertas yang masih kuperlukan, tentu brosur dan pamflet termasuk.

Padahal sudah berulang kali kuyakinkan diri sendiri agar jangan melirik ke sana. Fokus saja ke layar monitor untuk merampungkan tanggungan cerpen atau bejibun proyek novel yang bahkan masih berupa manuskrip. Atau fokus ke masa-masa kuliah yang belum selesai menjeratku. Tetapi mataku berontak. Dan sekali lagi, lembaran seukuran dua kali A2 ini mampir ke pangkuanku. Dan nggak tahu untuk berapa kali, rasanya ingin nangis. Angka-angka yang tertera di sana masih belum terjangkau oleh isi tabunganku.

Well, akhirnya tetap aku cuma bisa menghela napas panjang, lalu melempar brosur itu ke belakang dengan berat hati.

Just wait for a little bit. Tunggu sebentar lagi untuk mengumpulkan kekuatan, lalu serang!

Yea, menunggu nggak selamanya buruk asalkan kita tahu untuk apa penantian itu sejak awal kita jalani. 

Menunggu nggak selamanya buruk asal kita nggak menyia-nyiakan masa-masa penantian itu dengan berdiam diri.

Seperti anak panah, menunggu sembari memperkuat diri lewat tali busur, dan ketika waktunya tiba, lesatkan dengan kecepatan penuh menuju sasaran.

...

Terjebak di antara tiga pilihan: Fujifilm Finepix L30; Casio Exilim EX-ZS5; Nikon Coolpix S2500.

Just wait for me~! >_<

Rabu, 29 Agustus 2012

The Beginning of the New Days

Okay, my first post!
Just want to say hi :3

Yah, ini hari yang indah. Setiap menatap langit, biru yang menakjubkan menyambut. Mestinya kita bersyukur. Oh ya, aku bersyukur. Hidup nggak akan jadi lebih buruk kalau kita bersyukur. Malah akan jadi makin indah makin harinya.

Believe it, then it will be happening.

Hanya saja, belakangan aku bakal makin sibuk. Menulis, masuk kuliah lagi, dan berduel sama tikus-tikus di dapur. Geez, di saat-saat kayak gitu, aku kangen pengen punya kucing lagi. T_T

By :
Free Blog Templates