Oke, setelah perdebatan sengit dengan isi pikiran sendiri, aku memutuskan buat posting perkembangan salah satu proyek novelku di sini. Entah ya, belakangan ini aku tertarik mengangkat tema friendzone gara-gara--well--banyak yang nyebut-nyebut soal itu sih. Terinspirasi dari pengalaman sendiri juga.... *uhuk*
Ya sudah, sebelum postingan ini terselewengkan menjadi curcol, langsung masuk saja ke bab 1.
Oiya, klik judul kalau mau lihat postingan utuh (gara-gara read more-nya entah kenapa gak bisa muncul) =_=
==========================================
Saat perasaan kita
terjebak dalam sebuah janji persahabatan, kita memiliki dua pilihan. Tergantung
mana yang lebih penting untuk kita. Dan bagiku, persahabatan adalah sesuatu
yang takkan pernah kubuang untuk hal apa pun, meskipun itu berarti aku harus
menekan perasaan yang selalu berhasil nyaris membunuhku selama bertahun-tahun.
Oke, itu terlalu hiperbola. Tapi, rasanya tidak jauh beda kurasa. Sebab, dadaku
selalu menjadi sakit dan sesak. Nyaris tak bisa bernapas.
Satu hal yang kutahu.
Meskipun tak bisa melegakan perasaanku, aku tak terlalu peduli. Yang terpenting,
aku bisa tetap di sisinya dan memiliki senyumannya. Itu cukup.
***
Siang ini, lagi-lagi
aku berjalan sendirian di jalan yang mana ditumbuhi pepohonan dengan daun
berguguran. Bisa kaubayangkan betapa romantisnya bila memiliki seseorang untuk
diajak jalan bersama saat ini? Ah, tentu saja hal itu terlalu bagus untuk jadi
kenyataan buatku. Mana ada cowok yang mau berjalan beriringan dengan cewek yang
tahunya hanya main kasar sepertiku? Tidak, tidak ada. Mungkin, kecuali mereka.
Aku terhenti. Mataku membeliak
takjub saat menyadari dua cowok menghadang jalanku. Dan mereka tersenyum. Aku
pun ikut tersenyum. Melihat dua orang yang berpenampilan begitu kontras, siapa
pun akan penasaran bagaimana bisa mereka berteman begitu akrab.
Yang satu begitu
berantakan. Rambut berantakan, seragam putih abu-abu bagian atasan tidak
dimasukkan, lengan kaos hitam yang balapan dengan lengan seragam putihnya yang
tak pernah disetrika, juga tas ransel butut berwarna biru dongker yang tak
pernah dicuci. Yang satu lagi, betul-betul kebalikan. Rambutnya disisir terlalu
rapi, pakaiannya disetrika sampai halus—harum pula—dan sepatu fantofel hitam
yang rajin disemir sampai-sampai terlihat masih baru. Kedua cowok itu adalah
sahabatku: Reza si Berantakan dan Ari si Rapi.
“Mia, kabur lagi dari les
tambahan?” tanya Ari sambil mendatangiku. “Kalian berdua ini, ya? Sekali-kali
masuk dengan sukarela apa ruginya, sih? Capek tau, tiap hari musti patroli buat
nangkepin kalian.”
“Kalian? Reza
ikut-ikutan kabur?”
Tak menjawab, Ari menunjuk
tas ransel Reza. Aku mendengus geli, lantas memasang muka cemberut. “Aku cuma pengen
cari udara segar. Nggak boleh?”
“Boleh kalau kamu nggak
sambil bawa tas.”
Aku cuma meringis saat
melirik tas selempangku yang berwarna putih. Akhirnya, setelah diceramahi
panjang lebar, aku dan Reza digiring kembali ke sekolah. Dan itu rasanya
sangat-sangat-sangat menyebalkan. Aku bisa saja menggali tanah dan mengubur Ari
ke dalamnya saat ini juga. Tapi, begitu mengingat mungkin aku akan berurusan
dengan kepolisian, cepat-cepat kuurungkan niat itu.
Les tambahan adalah
bagian paling menyebalkan dari menjadi kelas XII. Tidak hanya empat puluh lima
menit tambahan sebelum jam pertama dimulai, bahkan waktu rehat siang dan soreku
tercuri oleh les tambahan. Yang paling buruk, sifat les tambahan ini:
diwajibkan!
Sekarang, aku harus
menerima nasib diceramahi oleh Bu Guru Biologi tentang sistem respirasi hewan.
Astaga! Siapa yang peduli soal itu? Aku betul-betul lebih suka menghadapi
timbunan soal aljabar daripada berurusan dengan hafalan konyol macam ini.
“Bertahan, Mia.
Setengah jam lagi ganti Bahasa Indonesia,” kata teman sebangkuku, Neni. Yah,
sudah sebangku sejak kelas XI, membuatnya tahu betul ketidaksukaanku pada mata
pelajaran yang berbau hafalan. Karena itulah aku masuk IPA yang lebih banyak
menghitung. Tapi, siapa sangka bahwa Biologi bisa menjadi lebih neraka daripada
mata pelajaran menghafal yang lain?
Perlahan, aku melirik
bangku pojok paling depan tempat Ari dan Reza duduk bersebelahan. Aku terpaksa
menahan tawa sewaktu Reza kena timpuk buku gara-gara tepergok ketiduran oleh Bu
Guru. Dan Ari hanya bisa menghela napas panjang. Untuk sesaat, Ari menoleh
padaku. Ia langsung tersenyum lemah sewaktu aku menangkap tatapannya. Mungkin
pertanda bahwa ia sudah pasrah melihat kelakuan Reza. Meski begitu, tetap saja
dadaku terasa hangat oleh senyumannya. Seperti apa pun artinya. Refleks, kedua
sudut bibirku terangkat. Tipis.
Setelah berlalu
setengah jam—yang rasanya sudah seperti seharian—aku benar-benar mulai tepar.
Biologi hari ini hafalannya banyak sekali. Dan celakanya, sebelum Bu Guru
meninggalkan kelas, disodorkannya sebendel soal tentang materi hari ini kepada
kami. Rasanya ingin sekali kugigit-gigit bendel soal itu, kusobek-sobek, terus
melemparnya ke anjing penjaga rumah di sebelah sekolah. Tapi, mengingat hasil
pengerjaanku bakal mempengaruhi raport semester ganjil, kuputuskan untuk tidak
lagi membuat peringkatku terjun bebas seperti semester lalu. Jujur saja,
dampratan bapakku lebih mengerikan daripada soal Biologi ini.
Aku beruntung kesialan
tidak berlanjut. Soalnya, Pak Guru Bahasa Indonesia rupanya ada acara keluarga
sore ini, jadi kami hanya dititipi sebendel soal yang jawabannya harus
dikumpulkan hari ini juga. Paling tidak, kami bisa mengerjakannya bersama-sama.
Atau, lebih tepatnya beberapa orang mengerjakan, sisanya tinggal mencontek—seandainya
saja hal ini terjadi sewaktu jam Biologi tadi. Apa boleh buat, kebiasaan buruk
itu sudah mendarah-daging entah sejak kapan. Tapi, karena aku cukup menyukai
Bahasa Indonesia, aku berusaha mengerjakan sendiri.
Kabar baik berlanjut
ketika semua soal itu berhasil diselesaikan dalam setengah jam. Artinya, kami
pulang lebih cepat hari ini. Seperti biasa, Ari yang ketiban sial untuk menaruh
lembar jawaban ke ruang guru—berhubung dia piket hari ini. Aku dan Reza hendak
membantu, tapi sesuatu menghentikan kami.
Seorang cewek berambut
panjang sepinggang dengan poni yang tertata rapi memasuki kelas dan menghampiri
kami. Cewek manis yang kutahu dari kelas sebelah itu rupanya sudah membawa tas
ranselnya. Itu berarti kelas sebelah pun bernasib sama seperti kelas kami. Oh,
aku hampir lupa memperkenalkannya. Namanya Amel, lumayan terkenal di seantero
sekolah karena berhasil menyabet peringkat satu paralel di angkatan kami—tentu
saja selain karena wajahnya cantik. Amel itu tipe idol yang marry sue.
Kekurangannya cuma satu. Dia amat sangat pemalu sekali—mungkin itulah yang
membuatnya jadi pendiam. Aku saja sampai heran bagaimana dia sampai bisa jadi
pacarnya Ari. Ah ya, hal yang terakhir tadi ... kenapa tiap kali menyadari
fakta itu badanku rasanya kesemutan, ya? Marah? Tidak. Sedih? Mana mungkin.
Senang? Tidak juga. Mungkin lebih tepatnya ... hambar.
Amel memandangi
kertas-kertas jawaban yang dipegang Ari, lalu menatap kami satu persatu. “Eh,
itu—” Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu menutup mulut kembali. Ekspresinya
tiap kali melakukan itu selalu mengingatkanku pada cewek-cewek moe di anime Jepang yang gampang memerah wajahnya kalau sedang bingung
atau malu. Cara bola matanya bergetar itu bikin gemas. Karena itulah aku tidak
pernah bisa kesal padanya. Meskipun ia sudah mengambil Ari dari kami. Dariku.
Ari hanya tersenyum melihat
tingkah Amel. “Mau ngumpulin kerjaan anak-anak. Cuma bentar kok. Mau nunggu?”
Amel perlahan
mengangguk kecil. Ia kelihatan ragu. Sepertinya ingin ikut Ari. Tapi, Ari malah
langsung pergi begitu saja. Aku cuma bisa menatap nanar punggungnya yang
menjauh. Dasar cowok! Kenapa tak ada satu pun dari mereka yang punya kepekaan
untuk hal-hal detil semacam ini? Dan ketika kulirik Amel, cewek itu sedang
menghela napas. Tapi, bahkan tak berniat menyusul meskipun ingin. Terkadang,
pasangan bodoh ini benar-benar membuatku kesal.
Aku langsung menyambar
tas ransel Ari dan memberikannya pada Amel yang tampak bingung. “Sana, susul,”
kataku singkat.
Mengerti arah
pembicaraanku, Amel langsung menerima tas itu dengan ekspresi wajah senang.
“Makasih, Mia,” sahutnya sambil tersenyum sangat manis.
Astaga! Kalau misalnya
aku cowok, aku bakal langsung merebut Amel dari cowok tidak becus itu.
“Mereka ini—!” kataku
kesal sesudah Amel menyusul Ari. “Rasanya tanganku gatel banget pengen
ngegeplak kepala pasangan bego itu.”
“Memangnya kamu tega?”
tanya Reza kemudian. “Kamu kelihatan protektif banget sama mereka berdua.
Berani taruhan, memarahi mereka pun kamu nggak bakal sanggup.”
Sialan! Tebakan Reza tepat
sasaran.
“Mau gimana lagi? Dalam
hal pelajaran, mereka boleh aja masuk ke level atas. Tapi buat urusan selain
itu, mereka nggak berguna.”
Reza langsung terkekeh.
Tak lama, wajahnya berubah serius. “Memangnya nggak apa-apa ngebiarin mereka
kayak gitu? Kamu nggak apa-apa kayak gini terus?”
Seketika, aku menantang
matanya. Tajam. “Maksudmu apa?”
Cowok berantakan itu
tak menjawab. Ia hanya memandangiku lama. Mata itu ... bukan sorot kesal, bukan
sorot kasihan, bukan pula sorot senang. Aku paling tidak suka kalau tidak bisa
menebak apa yang dipikirkannya seperti kali ini. Tak ada angin tak ada hujan,
tiba-tiba ia meraih kepalaku dan menepuk-nepuknya pelan. “Sabar ya, Mi? Masih
banyak ikan di lautan.”
Si Brengsek ini
benar-benar cari mati.
Aku langsung mengambil
vas bunga yang untungnya terbuat dari kayu. Setelah mengeluarkan bunganya,
kulempar vas itu ke arah Reza. “REZA SIALAN! Jangan seenaknya nepuk-nepuk
kepala orang kayak piaraan!”
Yang lebih mengesalkan,
Reza berhasil menghindar hingga membuat sasaranku meleset dan malah mengenai
Neni yang tengah membersihkan papan tulis. Aku langsung pucat pasi. Sementara,
Reza membeku di tempat, tak berani lagi bergerak.
Begitu meletakkan
penghapus di tempatnya, Neni mengambil vas bunga yang mendarat di dekat kakinya
setelah tadi memantul dari kepalanya. Ia kemudian bergantian menatap aku dan
Reza dengan pandangan dingin.
“Nggak satu pun dari
kalian berdua boleh pulang sebelum ngepel seluruh lantai kelas,” desisnya
mengancam. Berani sumpah, aku bahkan bisa melihat matanya yang berkilat
menakutkan. “Nggak peduli meski kalian nggak piket hari ini!” tambahnya galak.
Aku dan Reza bertukar
pandang dengan ekspresi horor, lalu berpaling pada Neni dan mengangguk patuh.
Ketua kelas kami itu meskipun biasanya sangat ceria dan seorang moodmaker yang handal, tapi sekalinya
marah—meskipun tak menunjukkan ekspresi sama sekali—bahkan cowok seberandal
Reza pun takkan berani melawan.
Dan hari ini pun
berakhir secara sangat tidak menyenangkan. Sesampainya di rumah, aku langsung
roboh di kasur. Badanku pegal-pegal semua. Awas saja kalau besok ketemu si
Cowok Urakan itu. Kalau emosiku belum reda, aku mungkin akan bikin perhitungan
dengannya.
Belum sempat aku
memikirkan rencana balas dendam, ponselku berbunyi. Susah payah, kuraih tas
selempangku dan mengambil ponsel. Darahku langsung naik ke ubun-ubun saat
kubaca nama Reza tertera di layarnya.
“Apa?” jawabku ketus.
“Udah olesi balsem ke
tangan-kakimu?”
“Hah?”
“Hari ini kamu keluar
banyak tenaga, Mi. Besok jam ke-0 Olahraga lho. Nggak apa-apa tuh nggak diolesi
balsem?”
“Kamu nelpon cuma buat
ngomongin itu?” Hening lama dan itu mulai membuatku kesal. “Woi, kamu masih
hidup?”
“Nggak. Ini hantu keren
Reza yang nelpon.”
Dasar Raja Narsis,
hantu keren apanya?
“Mi, soal Ari,” katanya
kemudian. “Okelah, dia emang udah punya cewek. Tapi, kamu jangan muna, deh.
Kamu suka kan, sama Ari?”
Lama, aku cuma bisa
mengernyit. “Za, denger baik-baik. Nggak ada yang namanya jatuh cinta di antara
kita bertiga. Sekali sahabat, selamanya bakal tetep begitu. Apa pun yang
terjadi. Kita udah janji begitu kan sejak bertahun-tahun lalu?”
“Oke,” sahutnya enteng.
Ini anak betul-betul!
Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dipikirkannya.
“Karena udah kamu
putusin, jangan nyesel nanti.”
“Nggak bakal.”
“Bagus.” Sesudah
mengatakan itu, Reza langsung menutup telponnya.
Aku betul-betul tidak
bisa mengerti jalan pikirannya. Tiba-tiba menelpon untuk menanyakan sesuatu
yang sudah pasti seperti itu, apa ia berniat menguji keteguhanku? Atau ia takut
aku akan merasa ragu? Apa pun itu, aku tak terlalu peduli. Karena aku sama
sekali tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya.
Aku tak pernah merasa
ragu dengan keputusanku. Ketika aku ingin membuang jauh perasaanku, entah akan
butuh waktu berapa lama, aku akan tetap melakukannya. Demi teman-temanku yang
sangat berharga seperti mereka. Aku takkan pernah melakukan tindakan bodoh yang
bisa merusak persahabatan kami. Bagiku yang hanya seorang anak tunggal, arti
mereka berdua lebih dari sekadar sahabat. Mereka seperti saudara bagiku. Bagian
dari keluarga yang takkan pernah kubuang hanya demi sebuah kata kerja bernama
“cinta”.


2 komentar:
Oke, ini cabe dari Heru Setiawan yang saya rekap dari chatgroup LCDP:
1) "Ingin rasanya begini2, tapi..." <penjelasan yg diawali tapi ini seolah mengurangi keindahan 'majas' yg sebelumnya. Pembaca pun rasanya sudah tahu tanpa penjelasan pun
2) marry (nikah) sue, r-nya berlebih. Dan, sepertinya penggambaran yg kurang perlu. Karena di narasi, Amel blm masuk level sue.
3) agaknya nanti perlu dikembangkan lagi narasi masa lalu yg menegaskan kalau kedua lelaki itu memanglah penting bagi Mia. Bukan hanya dari pengakuan Mia aja, tapi ada konflik/peristiwa yg membuat pembaca setuju kalau 2 orang itu emang penting
lanjutan cabe Heru :3
4) Dan enaknya lebih diperkuat lagi karakter Mia ini, karena mungkin masih belum terasa kepribadiannya dibandingkan karakter lain
5) soal teknis penulisan yg lain sih, rasanya masih ok. Saran saya sih perbanyak lg dialognya
--
terimakasih
...
sama-sama, Her~ XD (harusnya aku yang bilang makasih, ya ._.)
Posting Komentar