Sabtu, 01 September 2012

Friendzone - 1 - Arti Mereka

Oke, setelah perdebatan sengit dengan isi pikiran sendiri, aku memutuskan buat posting perkembangan salah satu proyek novelku di sini. Entah ya, belakangan ini aku tertarik mengangkat tema friendzone gara-gara--well--banyak yang nyebut-nyebut soal itu sih. Terinspirasi dari pengalaman sendiri juga.... *uhuk*

Ya sudah, sebelum postingan ini terselewengkan menjadi curcol, langsung masuk saja ke bab 1.

Oiya, klik judul kalau mau lihat postingan utuh (gara-gara read more-nya entah kenapa gak bisa muncul) =_=

==========================================




Saat perasaan kita terjebak dalam sebuah janji persahabatan, kita memiliki dua pilihan. Tergantung mana yang lebih penting untuk kita. Dan bagiku, persahabatan adalah sesuatu yang takkan pernah kubuang untuk hal apa pun, meskipun itu berarti aku harus menekan perasaan yang selalu berhasil nyaris membunuhku selama bertahun-tahun. Oke, itu terlalu hiperbola. Tapi, rasanya tidak jauh beda kurasa. Sebab, dadaku selalu menjadi sakit dan sesak. Nyaris tak bisa bernapas.

Satu hal yang kutahu. Meskipun tak bisa melegakan perasaanku, aku tak terlalu peduli. Yang terpenting, aku bisa tetap di sisinya dan memiliki senyumannya. Itu cukup.

***

Siang ini, lagi-lagi aku berjalan sendirian di jalan yang mana ditumbuhi pepohonan dengan daun berguguran. Bisa kaubayangkan betapa romantisnya bila memiliki seseorang untuk diajak jalan bersama saat ini? Ah, tentu saja hal itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan buatku. Mana ada cowok yang mau berjalan beriringan dengan cewek yang tahunya hanya main kasar sepertiku? Tidak, tidak ada. Mungkin, kecuali mereka.

Aku terhenti. Mataku membeliak takjub saat menyadari dua cowok menghadang jalanku. Dan mereka tersenyum. Aku pun ikut tersenyum. Melihat dua orang yang berpenampilan begitu kontras, siapa pun akan penasaran bagaimana bisa mereka berteman begitu akrab.

Yang satu begitu berantakan. Rambut berantakan, seragam putih abu-abu bagian atasan tidak dimasukkan, lengan kaos hitam yang balapan dengan lengan seragam putihnya yang tak pernah disetrika, juga tas ransel butut berwarna biru dongker yang tak pernah dicuci. Yang satu lagi, betul-betul kebalikan. Rambutnya disisir terlalu rapi, pakaiannya disetrika sampai halus—harum pula—dan sepatu fantofel hitam yang rajin disemir sampai-sampai terlihat masih baru. Kedua cowok itu adalah sahabatku: Reza si Berantakan dan Ari si Rapi.

“Mia, kabur lagi dari les tambahan?” tanya Ari sambil mendatangiku. “Kalian berdua ini, ya? Sekali-kali masuk dengan sukarela apa ruginya, sih? Capek tau, tiap hari musti patroli buat nangkepin kalian.”

“Kalian? Reza ikut-ikutan kabur?”

Tak menjawab, Ari menunjuk tas ransel Reza. Aku mendengus geli, lantas memasang muka cemberut. “Aku cuma pengen cari udara segar. Nggak boleh?”

“Boleh kalau kamu nggak sambil bawa tas.”

Aku cuma meringis saat melirik tas selempangku yang berwarna putih. Akhirnya, setelah diceramahi panjang lebar, aku dan Reza digiring kembali ke sekolah. Dan itu rasanya sangat-sangat-sangat menyebalkan. Aku bisa saja menggali tanah dan mengubur Ari ke dalamnya saat ini juga. Tapi, begitu mengingat mungkin aku akan berurusan dengan kepolisian, cepat-cepat kuurungkan niat itu.

Les tambahan adalah bagian paling menyebalkan dari menjadi kelas XII. Tidak hanya empat puluh lima menit tambahan sebelum jam pertama dimulai, bahkan waktu rehat siang dan soreku tercuri oleh les tambahan. Yang paling buruk, sifat les tambahan ini: diwajibkan!

Sekarang, aku harus menerima nasib diceramahi oleh Bu Guru Biologi tentang sistem respirasi hewan. Astaga! Siapa yang peduli soal itu? Aku betul-betul lebih suka menghadapi timbunan soal aljabar daripada berurusan dengan hafalan konyol macam ini.

“Bertahan, Mia. Setengah jam lagi ganti Bahasa Indonesia,” kata teman sebangkuku, Neni. Yah, sudah sebangku sejak kelas XI, membuatnya tahu betul ketidaksukaanku pada mata pelajaran yang berbau hafalan. Karena itulah aku masuk IPA yang lebih banyak menghitung. Tapi, siapa sangka bahwa Biologi bisa menjadi lebih neraka daripada mata pelajaran menghafal yang lain?

Perlahan, aku melirik bangku pojok paling depan tempat Ari dan Reza duduk bersebelahan. Aku terpaksa menahan tawa sewaktu Reza kena timpuk buku gara-gara tepergok ketiduran oleh Bu Guru. Dan Ari hanya bisa menghela napas panjang. Untuk sesaat, Ari menoleh padaku. Ia langsung tersenyum lemah sewaktu aku menangkap tatapannya. Mungkin pertanda bahwa ia sudah pasrah melihat kelakuan Reza. Meski begitu, tetap saja dadaku terasa hangat oleh senyumannya. Seperti apa pun artinya. Refleks, kedua sudut bibirku terangkat. Tipis.

Setelah berlalu setengah jam—yang rasanya sudah seperti seharian—aku benar-benar mulai tepar. Biologi hari ini hafalannya banyak sekali. Dan celakanya, sebelum Bu Guru meninggalkan kelas, disodorkannya sebendel soal tentang materi hari ini kepada kami. Rasanya ingin sekali kugigit-gigit bendel soal itu, kusobek-sobek, terus melemparnya ke anjing penjaga rumah di sebelah sekolah. Tapi, mengingat hasil pengerjaanku bakal mempengaruhi raport semester ganjil, kuputuskan untuk tidak lagi membuat peringkatku terjun bebas seperti semester lalu. Jujur saja, dampratan bapakku lebih mengerikan daripada soal Biologi ini.

Aku beruntung kesialan tidak berlanjut. Soalnya, Pak Guru Bahasa Indonesia rupanya ada acara keluarga sore ini, jadi kami hanya dititipi sebendel soal yang jawabannya harus dikumpulkan hari ini juga. Paling tidak, kami bisa mengerjakannya bersama-sama. Atau, lebih tepatnya beberapa orang mengerjakan, sisanya tinggal mencontek—seandainya saja hal ini terjadi sewaktu jam Biologi tadi. Apa boleh buat, kebiasaan buruk itu sudah mendarah-daging entah sejak kapan. Tapi, karena aku cukup menyukai Bahasa Indonesia, aku berusaha mengerjakan sendiri.

Kabar baik berlanjut ketika semua soal itu berhasil diselesaikan dalam setengah jam. Artinya, kami pulang lebih cepat hari ini. Seperti biasa, Ari yang ketiban sial untuk menaruh lembar jawaban ke ruang guru—berhubung dia piket hari ini. Aku dan Reza hendak membantu, tapi sesuatu menghentikan kami.

Seorang cewek berambut panjang sepinggang dengan poni yang tertata rapi memasuki kelas dan menghampiri kami. Cewek manis yang kutahu dari kelas sebelah itu rupanya sudah membawa tas ranselnya. Itu berarti kelas sebelah pun bernasib sama seperti kelas kami. Oh, aku hampir lupa memperkenalkannya. Namanya Amel, lumayan terkenal di seantero sekolah karena berhasil menyabet peringkat satu paralel di angkatan kami—tentu saja selain karena wajahnya cantik. Amel itu tipe idol yang marry sue. Kekurangannya cuma satu. Dia amat sangat pemalu sekali—mungkin itulah yang membuatnya jadi pendiam. Aku saja sampai heran bagaimana dia sampai bisa jadi pacarnya Ari. Ah ya, hal yang terakhir tadi ... kenapa tiap kali menyadari fakta itu badanku rasanya kesemutan, ya? Marah? Tidak. Sedih? Mana mungkin. Senang? Tidak juga. Mungkin lebih tepatnya ... hambar.

Amel memandangi kertas-kertas jawaban yang dipegang Ari, lalu menatap kami satu persatu. “Eh, itu—” Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu menutup mulut kembali. Ekspresinya tiap kali melakukan itu selalu mengingatkanku pada cewek-cewek moe di anime Jepang yang gampang memerah wajahnya kalau sedang bingung atau malu. Cara bola matanya bergetar itu bikin gemas. Karena itulah aku tidak pernah bisa kesal padanya. Meskipun ia sudah mengambil Ari dari kami. Dariku.

Ari hanya tersenyum melihat tingkah Amel. “Mau ngumpulin kerjaan anak-anak. Cuma bentar kok. Mau nunggu?”

Amel perlahan mengangguk kecil. Ia kelihatan ragu. Sepertinya ingin ikut Ari. Tapi, Ari malah langsung pergi begitu saja. Aku cuma bisa menatap nanar punggungnya yang menjauh. Dasar cowok! Kenapa tak ada satu pun dari mereka yang punya kepekaan untuk hal-hal detil semacam ini? Dan ketika kulirik Amel, cewek itu sedang menghela napas. Tapi, bahkan tak berniat menyusul meskipun ingin. Terkadang, pasangan bodoh ini benar-benar membuatku kesal.

Aku langsung menyambar tas ransel Ari dan memberikannya pada Amel yang tampak bingung. “Sana, susul,” kataku singkat.

Mengerti arah pembicaraanku, Amel langsung menerima tas itu dengan ekspresi wajah senang. “Makasih, Mia,” sahutnya sambil tersenyum sangat manis.

Astaga! Kalau misalnya aku cowok, aku bakal langsung merebut Amel dari cowok tidak becus itu.

“Mereka ini—!” kataku kesal sesudah Amel menyusul Ari. “Rasanya tanganku gatel banget pengen ngegeplak kepala pasangan bego itu.”

“Memangnya kamu tega?” tanya Reza kemudian. “Kamu kelihatan protektif banget sama mereka berdua. Berani taruhan, memarahi mereka pun kamu nggak bakal sanggup.”

Sialan! Tebakan Reza tepat sasaran.

“Mau gimana lagi? Dalam hal pelajaran, mereka boleh aja masuk ke level atas. Tapi buat urusan selain itu, mereka nggak berguna.”

Reza langsung terkekeh. Tak lama, wajahnya berubah serius. “Memangnya nggak apa-apa ngebiarin mereka kayak gitu? Kamu nggak apa-apa kayak gini terus?”

Seketika, aku menantang matanya. Tajam. “Maksudmu apa?”

Cowok berantakan itu tak menjawab. Ia hanya memandangiku lama. Mata itu ... bukan sorot kesal, bukan sorot kasihan, bukan pula sorot senang. Aku paling tidak suka kalau tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya seperti kali ini. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ia meraih kepalaku dan menepuk-nepuknya pelan. “Sabar ya, Mi? Masih banyak ikan di lautan.”

Si Brengsek ini benar-benar cari mati.

Aku langsung mengambil vas bunga yang untungnya terbuat dari kayu. Setelah mengeluarkan bunganya, kulempar vas itu ke arah Reza. “REZA SIALAN! Jangan seenaknya nepuk-nepuk kepala orang kayak piaraan!”

Yang lebih mengesalkan, Reza berhasil menghindar hingga membuat sasaranku meleset dan malah mengenai Neni yang tengah membersihkan papan tulis. Aku langsung pucat pasi. Sementara, Reza membeku di tempat, tak berani lagi bergerak.

Begitu meletakkan penghapus di tempatnya, Neni mengambil vas bunga yang mendarat di dekat kakinya setelah tadi memantul dari kepalanya. Ia kemudian bergantian menatap aku dan Reza dengan pandangan dingin.

“Nggak satu pun dari kalian berdua boleh pulang sebelum ngepel seluruh lantai kelas,” desisnya mengancam. Berani sumpah, aku bahkan bisa melihat matanya yang berkilat menakutkan. “Nggak peduli meski kalian nggak piket hari ini!” tambahnya galak.

Aku dan Reza bertukar pandang dengan ekspresi horor, lalu berpaling pada Neni dan mengangguk patuh. Ketua kelas kami itu meskipun biasanya sangat ceria dan seorang moodmaker yang handal, tapi sekalinya marah—meskipun tak menunjukkan ekspresi sama sekali—bahkan cowok seberandal Reza pun takkan berani melawan.

Dan hari ini pun berakhir secara sangat tidak menyenangkan. Sesampainya di rumah, aku langsung roboh di kasur. Badanku pegal-pegal semua. Awas saja kalau besok ketemu si Cowok Urakan itu. Kalau emosiku belum reda, aku mungkin akan bikin perhitungan dengannya.

Belum sempat aku memikirkan rencana balas dendam, ponselku berbunyi. Susah payah, kuraih tas selempangku dan mengambil ponsel. Darahku langsung naik ke ubun-ubun saat kubaca nama Reza tertera di layarnya.

“Apa?” jawabku ketus.

“Udah olesi balsem ke tangan-kakimu?”

“Hah?”

“Hari ini kamu keluar banyak tenaga, Mi. Besok jam ke-0 Olahraga lho. Nggak apa-apa tuh nggak diolesi balsem?”

“Kamu nelpon cuma buat ngomongin itu?” Hening lama dan itu mulai membuatku kesal. “Woi, kamu masih hidup?”

“Nggak. Ini hantu keren Reza yang nelpon.”

Dasar Raja Narsis, hantu keren apanya?

“Mi, soal Ari,” katanya kemudian. “Okelah, dia emang udah punya cewek. Tapi, kamu jangan muna, deh. Kamu suka kan, sama Ari?”

Lama, aku cuma bisa mengernyit. “Za, denger baik-baik. Nggak ada yang namanya jatuh cinta di antara kita bertiga. Sekali sahabat, selamanya bakal tetep begitu. Apa pun yang terjadi. Kita udah janji begitu kan sejak bertahun-tahun lalu?”

“Oke,” sahutnya enteng.

Ini anak betul-betul! Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dipikirkannya.

“Karena udah kamu putusin, jangan nyesel nanti.”

“Nggak bakal.”

“Bagus.” Sesudah mengatakan itu, Reza langsung menutup telponnya.

Aku betul-betul tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Tiba-tiba menelpon untuk menanyakan sesuatu yang sudah pasti seperti itu, apa ia berniat menguji keteguhanku? Atau ia takut aku akan merasa ragu? Apa pun itu, aku tak terlalu peduli. Karena aku sama sekali tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya.

Aku tak pernah merasa ragu dengan keputusanku. Ketika aku ingin membuang jauh perasaanku, entah akan butuh waktu berapa lama, aku akan tetap melakukannya. Demi teman-temanku yang sangat berharga seperti mereka. Aku takkan pernah melakukan tindakan bodoh yang bisa merusak persahabatan kami. Bagiku yang hanya seorang anak tunggal, arti mereka berdua lebih dari sekadar sahabat. Mereka seperti saudara bagiku. Bagian dari keluarga yang takkan pernah kubuang hanya demi sebuah kata kerja bernama “cinta”.

2 komentar:

Dya Ragil mengatakan...

Oke, ini cabe dari Heru Setiawan yang saya rekap dari chatgroup LCDP:
1) "Ingin rasanya begini2, tapi..." <penjelasan yg diawali tapi ini seolah mengurangi keindahan 'majas' yg sebelumnya. Pembaca pun rasanya sudah tahu tanpa penjelasan pun
2) marry (nikah) sue, r-nya berlebih. Dan, sepertinya penggambaran yg kurang perlu. Karena di narasi, Amel blm masuk level sue.
3) agaknya nanti perlu dikembangkan lagi narasi masa lalu yg menegaskan kalau kedua lelaki itu memanglah penting bagi Mia. Bukan hanya dari pengakuan Mia aja, tapi ada konflik/peristiwa yg membuat pembaca setuju kalau 2 orang itu emang penting

Dya Ragil mengatakan...

lanjutan cabe Heru :3

4) Dan enaknya lebih diperkuat lagi karakter Mia ini, karena mungkin masih belum terasa kepribadiannya dibandingkan karakter lain
5) soal teknis penulisan yg lain sih, rasanya masih ok. Saran saya sih perbanyak lg dialognya
--
terimakasih

...

sama-sama, Her~ XD (harusnya aku yang bilang makasih, ya ._.)

Posting Komentar

By :
Free Blog Templates